Darurat Pergaulan, Kekerasan Seksual Dilakukan Orang Dekat

Darurat Pergaulan, Kekerasan Seksual Dilakukan Orang Dekat
Darurat pergaulan - kekerasan seksual dilakuan orang dekat. ilustrasi: google
Beberapa hari lalu, di Jember ramai sekali broadcast dengan isi yang sama, tentang sosok mayat perempuan "ber-helm kuning". Sekilas banyak orang yang menganggap hoax seperti halnya banyak BC serupa pada waktu sebelum-sebelumnya.

Namun hati seakan terhenyak membentur tembok, setelah beberapa hari kemudian muncul lagi beberapa broadcast yang berisi tentang identitas serta foto-foto dilengkapi dengan dugaan awal motif dari aksi sdisme yang telah terjadi di kota santri ini, Jember Terbina.

Tidak berniat dan bermaksud untuk mengadili tanpa proses peradilan kasus tersebut. Hanya saja ingin memberikan garis tebal setebal-tebalnya, jika perilaku kekerasan oleh orang dekat dengan label 'pacar' bukanlah terjadi sekali ini saja, telah terjadi di berbagai tempat dengna trend aksi dari hari ke hari kian meningkat.

Mariana Amiruddin selaku Ketua Subkomisi Partisipasi Masyarakat Komnas Perempuan (dalam portal BBC, 25 November 2015) sempat menyebutkan bahwa 60% kekerasan seksual dilakukan oleh orang dekat atau orang yang telah dikenal dekat sebelumnya.

Tidak berhenti disitu, masih menurut Mariana, aksi kekerasan tersebut disebabkan oleh inferioritas laki-laki. Rasa rendah dan ketidakberdayaan laki-laki atas hal tertentu menyebabkan laki-laki harus menunjukkan kuasanya dengan cara melakukan kekerasan. Tidak terkecuali jika harus sampai melakukan pemerkosaan meski itu terhadap orang yang telah dikenal baik sebelumnya.

Berharap pada pemerintah dengan penegakan perangkat dan produk hukum seperti Undang-undang KDRT maupun UU Penghapusan Kekerasan Seksual adalah hal penting. Namun, hal paling mendesak adalah dengan membentengi orang-orang yang kita cintai, baik laki-laki maupun perempuan.

Laki-laki agar tidak menjadi pelaku kekerasan dan bagi keluarga perempuan agar tidak menjadi korban dari berbagai bentuk kekerasan yang berujung pada resiko fatal termasuk seperti kematian.

Keluarga dan sistem sosial kehidupan bermasyarakat menjadi perangkat utama untuk mencegah dan meminimalisir berbagai kemungkinan terjadinya aksi kekerasan bermotif seksual. Orang tua dan keluarga harus peka terhadap gejala "penyakit sosial" yang diderita oleh anggota keluarga lainnya.

Termasuk aktivitas yang belakangan disebut dengan 'pacaran' merupakan suatu gejala penyakit yang harus dideteksi secara dini. Mengatasi permasalahan semacam ini orang tua dan sistem masyarakat tidak bisa serta merta melarang mereka untku melakukan hal tersebut. Karena, bisa jadi mereka justru melakukan 'hal lebih' ketika tidak dalam pengawasan keluarganya.

Akan tetapi, sebagaimana berbagai bentuk penyakit sosial lainnya (termasuk prostitusi, narkoba, dll.) membutuhkan pendampingan intesif dengan berbagai solusi alterntif untuk menggantikan aktivitas yang kita sebut sebagai penyimpangan tersebut. Jika tidak, penderita penyakit ini (baca: pacaran) akan mendapat pembenaran bahwa aktivitasnya tidak melanggar sistem sosial bermasyarakat.

Fokus perhatian dan energi dari para pelaku penyakit sosial tersebut harus diarahkan pada berbagai kegiatan positif, kreatif dan konstruktif sesuai dengan minat dan bakatnya. Fuangsi motivasi mental spiritual ada pada pundak keluarga, sedangkan peran sistem sosial harus melakukan pengawasan dan membentuk iklim kehidupan yang kondusif dan saling menjaga, tidak saling abai-mengabaikan.

Dipublikasikan pertama kali oleh buletin Istismar
Edisi 02/I/Maret 2016

You Might Also Like

Post A Comment